jump to navigation

Abad ke-21 Abad Asia? Desember 20, 2007

Posted by muktihadid in Artikel, berita, humaniora, sosial.
trackback

Diyakini banyak kalangan Asia bahwa abad ke-21 adalah Abad Asia untuk memimpin dunia. Benar atau tidaknya prediksi ini hanya waktu yang bisa menjawabnya. Namun dari sekarang kita sudah bisa melihat indikasi-indikasinya yang mengarah kesana.

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai gamang menghadapi manuver agresif dan kolosal dari lembaga-lembaga investasi pemerintah (sovereign wealth fund/SFW) negara-negara Asia yang beberapa tahun terakhir terus memborong berbagai aset penting di negara mereka.

Berlimpah uang dari surplus cadangan devisa, neraca perdagangan, tabungan dan dana pensiun di dalam negeri mereka, atau banjir devisa dari minyak (petrodollar) yang terus membengkak, SFW-SFW dari negara-negara yang diuntungkan oleh booming perekonomian global seperti China dan Singapura atau negara-negara pengekspor minyak Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab,dan Kuwait, seakan tak pernah kehabisan amunisi untuk menimbun aset-aset global yang menguntungkan.

Dunia berbalik. Jika dulu lembaga investasi Barat seperti hedge fund dan fund management memburu korban di negara-negara berkembang, kini negara-negara berkembang ramai-ramai berlomba memperkuat lembaga investasi mereka sendiri dan mencari target di negara lain, termasuk negara-negara maju.

Berbeda dengan sebelumnya, investasi BUMN-BUMN atau SFW sekarang ini tidak lagi hanya di instrumen konvensional berpendapatan tetap seperti surat utang yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan AS dan negara-negara maju lain (Treasury-bills/T-bills). Daftar belanjaan mereka kini jauh lebih beragam dan tidak memilih-milih. Mulai dari komoditas yang menawarkan keuntungan tinggi hingga operator pelabuhan, Museum Lilin Madame Tussaud, real estat, saham perusahaan otomotif, dan bank.

Dengan manajemen dan dana pemerintah di belakangnya, SFW sebenarnya lebih cenderung merupakan investor strategis dengan investasi jangka panjang ketimbang hedge fund yang hanya mengincar instrumen investasi portofolio jangka pendek. Tetapi, tak sedikit kalangan yang menyamakan mereka dengan burung nasar yang seperti kesetanan mencaplok perusahaan-perusahaan yang tengah kesulitan uang atau kolaps karena krisis, baik krisis keuangan di Asia, krisis kredit perumahan kelas dua (subprime mortgage) seperti terjadi di AS baru-baru ini, maupun karena salah urus. Para analis dari Merill Lynch, Morgan Stanley dan Peterson Institute memperkirakan nilai aset SFW di seluruh dunia sekarang ini 1,5 triliun dollar AS-2,5 triliun dollar AS.

Dengan tingkat keuntungan investasi hingga dua digit, akumulasi cadangan devisa 5.600 triliun dollar AS di negara-negara asal SFW dan tambahan surplus perdagangan hingga 25 persen dari produk domestik bruto (PDB) setiap tahunnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan nilai aset yang dikelola SFW-SFW dari negara-negara berkembang ini akan terus menggelembung mencapai 15 triliun dollar AS dalam satu dekade ke depan. Ini kira-kira seperlima sendiri dari total kekayaan finansial global.

Nilai transaksi yang mereka buat dalam dua tahun terakhir mencapai 138,9 miliar dollar AS. Dari 137 transaksi tersebut, 37 di antaranya masing-masing bernilai 1 miliar dollar AS lebih. Dari 45 miliar dollar AS investasi yang mereka kucurkan di berberbagai perusahaan dan dalam bentuk berbagai aset pada tahun ini, sekitar 37 miliar dollar AS di antaranya, menurut Morgan Stanley, ditujukan pada perusahaan-perusahaan yang kolaps atau goyah di sektor jasa keuangan.

Salah satu transaksi paling fenomenal adalah masuknya Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), SFW milik Pemerintah Abu Dhabi dengan suntikan dana 6,7 miliar dollar AS ke Citigroup, dalam rangka menyelamatkan bank raksasa Amerika yang merugi miliaran dollar AS karena krisis subprime mortgage itu. Karena injeksi dana ADIA ini, Citigroup tak harus mengobral murah sebagian aset untuk menutup kewajiban ke nasabah.

Transaksi menonjol lainnya adalah akuisisi Temasek Holding Pte Ltd dan China Development Bank atas 3,1 persen dan 1,77 persen saham bank Inggris, Barclays Capital, senilai masing-masing 18,5 miliar dollar AS dan 13,5 miliar dollar AS, untuk menopang ambisi Barclays mengakuisisi bank raksasa dari Belanda, ABN Amro.

Namun, yang paling mengejutkan adalah pembelian saham operator pasar modal di sejumlah negara maju oleh SFW dari Timur Tengah, yakni akuisisi 20 persen saham operator London Stock Exchange dan hampir 10 persen saham operator bursa saham Norwegia, OMX AB, oleh Qatar Investment Authority, SFW milik Pemerintah Qatar. Tak berlebihan, harian Inggris The Telegraph menulis, “Sepotong besar sistem finasial Barat rontok seperti buah masak jatuh ke pangkuan para sheikh petrodollar dan pemerintah yang memiliki tancapan kaki kuat di Asia”.

Dengan mengguritanya akuisisi aset SFW-SFW  milik Pemerintah Asia membuat negara-negara maju seperti AS dan Uni Eropa mulai cemas memudarnya hegemoni ekonomi mereka selama ini. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-7 belum lama ini, isu SFW menjadi salah satu tema sentral pembahasan para pemimpin negara maju itu. Di AS, tak kurang dari Presiden W George Bush, Menteri Keuangan Henry Paulson, dan calon kandidat presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, juga ikut bersuara mengenai potensi bahaya SFW.

AS sendiri sudah meminta IMF dan Bank Dunia untuk membuat aturan ketat mengenai sepak terjang SFW, dan mendesak Jerman dan Perancis untuk mengeluarkan sikap bersama Uni Eropa mengenai SFW. AS tidak sendiri, Presiden Bank Sentral Eropa Jean Claude Trichet terang-terangan juga mengingatkan, perekonomian global dalam bahaya jika SFW tidak dikelola secara transparan.

Suatu ironi, Amerika, yang selama ini menggembar-gemborkan system pasar bebas dan ngotot memaksa negara-negara lain untuk membuka pasarnya, tiba-tiba kini seperti paranoid menghadapi serbuan dana asing. Padahal, perputaran dana di pusat keuangannya di Wall Street yang mencapai sekitar 10 triliun dollar AS selama ini antara lain juga ditopang oleh investor dari negara-negara pengekspor minyak Arab dengan banjir petrodollarnya dan juga negara-negara Asia, termasuk China dan Singapura, yang sangat diuntungkan dan panen devisa dari booming ekonomi global.

China dan Singapura, dengan sepak terjang lembaga-lembaga investasi milik pemerintah (sovereign wealth fund/SFW) mereka, adalah contoh kapitalisme negara di Asia yang mampu membuat negara-negara maju ketar-ketir. Meski hanya negara pulau kecil, Singapura, bersama China, dengan topangan cadangan devisa 1,4 triliun dollar AS yang dimilikinya, diakui sebagai simbol sukses dan actor penting baru kapitalisme negara dari negara berkembang.

Jumlah total dana yang dikelola oleh SFW negara-negara berkembang sekarang ini diperkirakan oleh IMF mencapai 2,2 triliun-2,5 triliun dollar AS. Sebanyak 2,1 triliun dollar AS diantaranya dikuasai oleh 20 SFW terbesar.

Tujuh terbesar SFW sekarang ini menurut Standard Chartered adalah Abu Dhabi Investment Authority /ADIA dari Abu Dhabi (625 miliar dollar AS), GPF Global dari Norwegia (322 miliar dollar AS), Governmet of Singapore Investment Corporation/GIC dari Singapura (215 miliar dollar AS), Kuwait Investment Authority/KIA dari Kuwait (213 miliar dollar AS), China Investment Corporation/CIC dari China (200 miliar dollar AS), Stabilization Fund dari Rusia (128 miliar dollar AS), dan Temasek Holdings dari Singapura (108 miliar dollar AS).

Volume dana yang dikelola SFW ini mengalahkan dana yang dikelola para hedge fund di seluruh dunia (1,0 triliun dollar AS-1,5 triliun dollar AS) yang selama ini sepak terjangnya membuat ketar-ketir dunia dan dituding berada di belakang berbagai krisis finansial global. Juga jauh lebih besar dari akumulasi dana yang dikelola lembaga ekuitas swasta (equity fund) yang 700 miliar dollar AS-1,1 triliun dollar AS. Namun, masih kalah dari dana yang dikelola oleh lembaga investasi yang lebih matang seperti UBS, Barclays Global Investors, allianz Group, dan lain-lain yang total mencapai sekitar 53 triliun dollar AS.

Di kalangan SFW negara berkembang, pemain terbesar sekarang ini, menurut Market Watch, adalah SFW dari negara-negara Timteng, seperti Abu Dhabi, Arab Saudi, Kuwait, lalu Singapura, Taiwan, Korsel, dan Malaysia. Arab Saudi diyakini menempatkan sekitar 250 miliar dollar AS di SFW-nya, sementara Abu Dhabi sekitar 875 miliar dollar AS.

ADIA, salah satu SFW Abu Dhabi yang didirikan tahun 1977, terutama mengincar bank-bank London. Investasi besar ADIA terakhir antara lain di Prime West energy Trust di Kanada (5 miliar dollar AS). SFW dari Abu Dhabi lainnya yang baru didirikan tahun 2002, Mubadala, juga mencengangkan dunia dengan akuisisi 5 persen saham perusahaan mobil Ferrari belum lama ini. Sementara GIC antara lain membeli separuh kepemilikan pusat perbelanjaan terkemuka WestQuay di Southampton (600 juta dollar AS), Merril Lynch Financial Centre (960 juta dollar AS), dan 50 persen saham Westfield Parramatta, perusahaan properti di Australia (584 juta dollar AS). SFW dari Kuwait, KIA, antara lain membeli 7,2 persen saham di perusahaan otomotif Daimler-Chrysler (8,1 miliar dollar AS), China Investment Corporation membeli 10 persen saham Blackstone (3 miliar dollar AS). Temasek membeli 12 persen saham Barclays senilai miliar dollar AS, 12 persen saham ABC Learning Centres di Australia, dan 24 persen saham China Eastern Airlines.

Bukan hanya China dan Singapura. Sejumlah negara Asia lain, terus menggemukkan SFW mereka.

Sepak terjang SFW-SFW milik Pemerintah Asia yang mengakuisisi aset milik negara-negara maju yang terus menggurita adalah gambaran bangkitnya posisi tawar dan hegemoni dalam bidang politik dan ekonomi bangsa Asia terhadap hegemoni negara- negara maju saat ini.

Lalu bagaimana dengan Pemerintah Indonesia? Apakah hanya sekedar menonton saja? 

Disarikan dari KOMPAS,Senin, 17 Desember 2007 Kolom SOROTAN (Ekonomi) hlm50-51.

 

 

Iklan

Komentar»

1. isal - Januari 17, 2008

good

2. putri-bali - Desember 25, 2008

it’s a nice site. keep on updating, i love to read much…
bikebali

3. yogi herlambang - Maret 25, 2009

saya tertarik dengan isu ini, dan saya berencana mengangkat tema ini dalam penulisan skripsi saya.
jika ada referensi mohon dikirimkan ke email saya,karena saya agak sulit dalam pengumpulan data-datanya.
thanx


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Desember 2007
    S S R K J S M
    « Nov   Jan »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Kategori

  • Arsip

  • Tulisan Teratas

  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terbaru

    muktihadid di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ajeng di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ketchupz Bowo di Kenapa Hari Ahad dirubah Menja…
    Justinus Henry di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ahmad samarin Hasibu… di Misteri Lembing si Kutu H…
  • Blog Stats

  • Klik tertinggi

  • Meta

  • ALWAQTU KASYOIF

  • Pengunjung

    Locations of visitors to this page
  • %d blogger menyukai ini: