jump to navigation

Kenapa Banjir-banjir Besar di Jakarta Terjadi di Bulan Februari? Februari 11, 2008

Posted by muktihadid in Artikel, Iptek, lingkungan hidup, sosial.
trackback

banjir-besar-jkt.jpgDefinisi banjir dalam artikel ini adalah banjir besar yang hampir melumpuhkan kota Jakarta seperti terjadi pada minggu pertama Februari 2007, yang merupakan ulangan kejadian pada bulan yang sama tahun 1996, dan 2002.

Di luar tahun tersebut, Jakarta tentu saja mengalami banjir tetapi dengan skala, dampak, dan eskalasi kerugian jauh lebih kecil. Kecuali, tentu saja, banjir pekan lalu.

Menarik mencermati adanya kecenderungan periode 5-6 tahun pada peristiwa banjir besar Jakarta (1996, 2002, 2007). Apabila diamati, terdapat kesamaan pola pada hadirnya cold surge, yaitu massa udara dingin yang terbawa oleh sirkulasi angin utara-selatan (meredional) akibat gangguan tekanan tinggi (high pressure disturbance) di daerah Siberia, melewati ekuator di Selat Karimata, dan mencapai laut dan pesisir utara Jawa dengan kecepatan yang konsisten, lebih dari 10 meter/detik (m/det) dan berlangsung selama 12-24 hari.

Selain faktor hadirnya cold surge, banjir Jakarta 1996, 2002, dan 2007 memiliki korelasi dengan gangguan atmosfer dalam bentuk osilasi gelombang Maden-Julian Oscillation (MJO) yang memiliki periode 30-50 hari dan kondisi iklim regional El Nino/La Nina Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) dari Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Banjir Februari 1996 terjadi pada saat kondisi iklim regional mengalami La Nina lemah bersamaan dengan datangnya fase aktif MJO. Banjir Februari 2002 terjadi pada saat kondisi iklim regional normal dan juga fase aktif MJO. Banjir Februari 2007 terjadi saat kondisi iklim regional El Nino di Samudra Pasifik dan IOD di Samudra Hindia baru saja meluruh, tetapi MJO pada fase tidak aktif.

MJO menjadi faktor dominan kedua selain cold surge yang menyebabkan banjir Jakarta 1996 dan 2002.Fenomena MJO terkait langsung dengan pembentukan kolam panas di Samudra Hindia bagian timur dan Samudra Pasifik di bagian barat sehingga pergerakan MJO ke arah timur bersama angin baratan (westerly wind) sepanjang ekuator selalu diikuti dengan konveksi awan kumulus tebal. Awan konvektif ini menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi sepanjang penjalarannya yang menempuh jarak 100 kilometer dalam sehari di Samudra Hindia dan 500 kilometer per hari ketika berada di Indonesia.

Selain meningkatkan curah hujan, terutama ketika kondisi iklim regional mengalami La Nina seperti saat ini, MJO juga menyebabkan munculnya siklon tropis dan gangguan instabilitas atmosfer, seperti depresi atau tekanan rendah (Malonet dan Hartmann, 2001).

Hal ini dapat dilihat pada akhir Desember 2007, ketika MJO dalam fase matang. Intensitas curah hujan tinggi dan dalam waktu cukup lama (torrential rains) terjadi di laut dan pantai utara Jawa menyebabkan wilayah Jawa Tengah mengalami longsor akibat hujan deras yang terus-terusan mengguyur yang menimbulkan korban jiwa dan menyebabkan instabilitas atmosfer di perairan selatan Bali (Kompas,26 Desember 2007).

Selain itu, siklon tropis Melanie terbentuk di perairan barat laut Australia pada 30 Desember 2007 dan beberapa hari kemudian siklon tropis Helen muncul di perairan utara Australia (sekitar Darwin) pada 4 Januari 2008.

Wilayah Jakarta beruntung terhindar dari curah hujan dengan intensitas tinggi saat berlangsungnya fase matang MJO tersebut. Instabilitas atmosfer hanya terjadi di perairan selatan Jawa dalam bentuk depresi (tekanan rendah) pada 1 Januari 2008 akibat pergerakan siklon tropis Melanie. Kondisi tak kondusif terjadinya banjir besar di Jakarta disebabkan tak hadirnya faktor cold surge saat itu.

Menarik saat mencermati banjir Jakarta Februari 2007 yang terjadi saat MJO tidak aktif. Kondisi iklim regional IOD yang meluruh di Samudra Hindia bagian timur dianalisis sebagai faktor kondusif meningkatnya intensitas curah hujan harian secara lokal di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Cold surge yang membawa uap air hangat dari Laut China Selatan dan Selat Karimata mencapai wilayah Jakarta menyebabkan konvergensi angin (datang dari arah barat daya) bertekanan rendah di permukaan (0-3 km) yang secara intensif dan berlangsung cukup lama sejak akhir Januari sampai minggu pertama Februari 2007. Sebaliknya di lapisan menengah (lebih dari 3 kilometer) berembus angin tenggara yang berlawanan dengan arah angin di lapisan bawahnya dan membawa massa udara kering akibat proses depresi di Samudra Hindia bagian timur pada saat meluruhnya IOD.

Kondisi itu menyebabkan gaya gesekan angin secara menegak (wind vertical shear) yang besar di permukaan dan menjadi kondisi sangat kondusif untuk intensifikasi pembentukan awan kumulus dalam waktu lama dan berulang dalam sehari (Rotunno dkk,1988)

Kondisi ini dapat dilihat saat cold surge hadir dalam waktu cukup lama (12 hari) pada kasus banjir Jakarta 2007 dan meningkatkan durasi curah hujan harian di wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan pola hujan yang terjadi sepanjang malam (pukul.20.00-22.00) selama 4-5 jam, berhenti sebentar pada dini hari, dan hujan lagi pada pagi hari (Pk.08.00-10.00) selama 3-4 jam. Bahkan pada kondisi cold surge memiliki kecepatan maksimum (15 m/det) yang terjadi pada 31 Januari hingga 1 Februari 2007, hujan pada malam hari terus berlangsung sampai pagi, 8-9 jam.

Dari uraian di atas tampak paling tidak ada 3 faktor dominan yang menyebabkan banjir Jakarta 1996, 2002, dan 2007, yaitu kehadiran cold surge dengan kecepan angin dari arah barat daya lebih besar 10 m/det dan berlangsung dalam waktu cukup lama (12-24 harian); fase aktif osilasi gelombang MJO dalam periode 30-50 harian; dan kondisi lokal adanya massa udara kering pada lapisan menengah (lebih dari 3 km) yang menyebabkan meningkatnya instabilitas angin secara menegak dan pada gilirannya menjadi kondisi kondusif pembentukan awan kumulus melalui proses konveksi pada saat cold surge berada di lapisan permukaan (0-3 km).

Selain ketiga faktor di atas, kondisi iklim regional La NIna dapat memicu naiknya curah hujan di atas normal di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namun, hal itu bukan faktor utama penyebab banjir besar di Jakarta tanpa kehadiran cold surge dengan periode 12-24 hari.

Apakah banjir serupa akan berulang pada tahun 2008 ini?

Sangat sulit menjawabnya karena belum ada metode dan model cukup akurat dengan tepat meramalkan kehadiran cold surge dan MJO. Yang dapat kita lakukan saat ini adalah meramalkan peluang terjadinya kedua faktor dominan itu.

Namun, catatan selama banjir Jakarta 1996, 2002, dan 2007 mensyaratkan adanya cold surge kuat sebagai faktor utama terjadinya banjir besar di Jakarta. Dengan demikian, meskipun fase aktif MJO diasumsikan memasuki wilayah Indonesia pada minggu ke-2 atau ke-3 bulan Februari 2008, peluang berulangnya banjir 2007 akan kecil. Apalagi faktor lokal kontribusi massa udara kering di lapisan menengah akibat kondisi regional Indian Ocean Dipole yang meluruh tidak terjadi selama tahun 2007 lalu.

Namun, kita hendaknya tetap waspada mencermati perubahan cuaca dan iklim. Meskipun peluang berulangnya banjir 2007 akan kecil, gangguan dalam bentuk instabilitas atmosfer akibat depresi, siklon tropis, dan curah hujan yang meningkat secara regional pada saat fase puncak MJO dan La Nina berlangsung harus tetap diwaspadai saat memasuki akhir Februari dan sepanjang Maret 2008.

Oleh DR FADLI SYAMSUDIN (Laboratoriom Teknologi Sistem Kebumian dan Mitigasi Bencana (Geotech BPPT), Puspitek, Serpong.

Dikutip dari Kompas, Rabu, 6 Februari 2008, TEROPONG (Ilmu Pengetahuan).

Apa hikmah dari tulisan di atas tentang banjir besar di Jakarta yang sulit di prediksikan akan terulang lagi di tahun 2008 ini, ilmuwan hanya bisa meramalkan kehadiran faktor dominan terjadinya banjir besar yaitu cold surge dan MJO, ini terjadi disebabkan karena perubahan iklim dan cuaca yang sulit untuk ditebak.

Betapa lemah dan bodohnya manusia, belum mau juga sadar akan peringatan KUASA ALAM, terus membuat kerusakan alam yang berdampak pada instabilitas ekologi yang menyimpang dari jalur semestinya, berakibat fatal bagi kelangsungan hidup manusia yang hidup bukan hanya di Jakarta namun wilayah Indonesia khususnya dan bumi umumnya.

Kalau kondisi ini terus berlanjut tanpa ada solusi nyata dari semua pihak penghuni bumi ini, tak mustahil bencana banjir akan menerpa kita dimana pun kita tinggal!

Sungguh, saat ini bumi kita butuh pemimpin yang mampu untuk menyelamatkan bumi ini dari kehancuran akibat ulah manusia yang melampaui batas!

Namun, siapa ya ? ? ?

Iklan

Komentar»

1. infogue - Februari 27, 2008

Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Nantikan segera plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi untuk Blogspot dan WordPress dengan instalasi mudah & singkat. Salam!

http://www.infogue.com/lingkungan/kenapa_banjir_banjir_besar_di_jakarta_terjadi_di_bulan_februari_/

2. eddy kelana - April 22, 2008

Mengenai banjir besar di jakarta, saya melihatnya begini. Dari dulu yang namanya cold surge, mjo dan apa lagi itu, sudah ada. Kemudian, ada angin dari baradaya sebagai salah satu sebab banjir, menurut saya justru angin dari belahan selatan menihilkan hujan-hujan besar di pesisir utara Jawa Barat. Angin dari utaralah yang sangat berperan di sini. Sebab, terpaan angin utara ini oleh efek bendung pegunungan di Bogor akan berubah sifat menjadi rotasional ciri alirannya sebagai akibat dari membesarnya efek Corioli dan vortisitas absolutnya. hanya itu saja. tidak ada yang aneh. Soal bakal banjir terus, saya mensinyalir faktor penurunan tanah dan pendangkalan aliran sungai yang jadi biang keladi. saya kecil di jakarta. Hampir tiap muara sungai pernah saya kunungi untuk mancing ikan. Waktu itu sungai masih jernih dan dalam. Sekarang? Sunga yang dulunya dalam, sekarang cuma sedalam pinggang orang dewasa.

3. aget - April 1, 2010

kalau penyebabnya sama kenapa luas banjir berbeda pada ketiga tahun tersebut ? perlu kajian tang lebih mendalam.

4. BANJIR « Utarikusuma's Blog - Oktober 9, 2011

[…] 3 faktor dominan yang menyebabkan banjir Jakarta 1996, 2002, dan 2007, yaitu kehadiran cold surge dengan kecepan angin dari arah barat daya lebih besar 10 m/det dan berlangsung dalam waktu cukup lama (12-24 harian); fase aktif osilasi gelombang MJO dalam periode 30-50 harian; dan kondisi lokal adanya massa udara kering pada lapisan menengah (lebih dari 3 km) yang menyebabkan meningkatnya instabilitas angin secara menegak dan pada gilirannya menjadi kondisi kondusif pembentukan awan kumulus melalui proses konveksi pada saat cold surge berada di lapisan permukaan (0-3 km). https://muktihadid.wordpress.com/2008/02/11/kenapa-banjir-banjir-besar-terjadi-di-bulan-februari/ […]

5. indrangokk - Oktober 23, 2012

[…] 3 faktor dominan yang menyebabkan banjir Jakarta 1996, 2002, dan 2007, yaitu kehadiran cold surge dengan kecepan angin dari arah barat daya lebih besar 10 m/det dan berlangsung dalam waktu cukup lama (12-24 harian); fase aktif osilasi gelombang MJO dalam periode 30-50 harian; dan kondisi lokal adanya massa udara kering pada lapisan menengah (lebih dari 3 km) yang menyebabkan meningkatnya instabilitas angin secara menegak dan pada gilirannya menjadi kondisi kondusif pembentukan awan kumulus melalui proses konveksi pada saat cold surge berada di lapisan permukaan (0-3 km).https://muktihadid.wordpress.com/2008/02/11/kenapa-banjir-banjir-besar-terjadi-di-bulan-februari/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Februari 2008
    S S R K J S M
    « Jan   Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    2526272829  
  • Kategori

  • Arsip

  • Tulisan Teratas

  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terbaru

    muktihadid di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ajeng di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ketchupz Bowo di Kenapa Hari Ahad dirubah Menja…
    Justinus Henry di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ahmad samarin Hasibu… di Misteri Lembing si Kutu H…
  • Blog Stats

  • Klik tertinggi

  • Meta

  • ALWAQTU KASYOIF

  • Pengunjung

    Locations of visitors to this page
  • %d blogger menyukai ini: