jump to navigation

FOPPI Pelopor Pedagang Pasar Tradisional Mandiri Juli 8, 2008

Posted by muktihadid in Artikel, humaniora, Umum.
trackback

Pedagang patungan mendirikan pasar, menjadikan harga kios jauh lebih murah. Tak puas dengan pola pendirian pasar yang dinilai tidak adil, Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia atau FOPPI membuka pasar sendiri, Sabtu (5/7). Pasar yang diberi nama Plasa FOPPI itu berada di Jalan Hasanudin 53-54, dekat Blok M, Jakarta Selatan.

Pasar yang didirikan FOPPI itu menyerupai pasar modern yang lengkap dengan pendingin udara dan toilet yang bersih. Tidak ada kesan tradisional yang becek, panas, dan pengap.

Sekretaris Jenderal FOPPI Cahya Suparno mengatakan, Plasa FOPPI didirikan untuk menampung eks pedagang pasar Blok M yang terbakar beberapa tahun lalu. Pasar itu dapat menampung 80 pedagang, yang mayoritas berjualan pakaian, perhiasan non-emas, dan makanan.

Sebelumnya para pedagang akan ditampung di Blok M Square yang baru didirikan. Namun, kata Cahya, banyak pedagang yang keberatan karena harganya mahal. Selain itu, mereka ditempatkan di lantai dasar yang ternyata di bawah permukaan tanah dan di atasnya terdapar pasar ritel modern Carrefour.

Menurut Cahya, pedagang menjadi enggan karena harga rata-rata kios di Blok M Square Rp 42,5 juta per meter persegi. Di sisi lain, mereka merasa tidak diberi posisi seimbang untuk bersaing dengan pesaing yang jauh lebih besar.

Berpijak dari kondisi itu, para pedagang yang tergabung dalam FOPPI mengumpulkan dana. Mereka menyewa dua bangunan yang dulunya adalah kantor dan merombaknya menjadi pasar.

Biaya perombakan kurang dari Rp 1 miliar dan mereka menyewanya selama 10 tahun. Selama masa sewa, para pedagang berencana untuk membeli bangunan itu dari PT Wahana Tata.

“Setelah kami kelola sendiri, para pedagang hanya dibebani biaya sewa Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per kios setiap bulan. Harga itu jauh lebih murah dan terjangkau. Akses ke pasar itu juga mudah karena berada di tepi jalan,” kata Cahya.

Ketua Dewan Pengawas FOPPI Irfan Melayu mengatakan, Plasa FOPPI merupakan pasar kedua yang didirikan oleh FOPPI. Pasar pertama adalah Negeri Bunga dan Ikan Hias Margaguna di dekat Pondok Indah, Jakarta Selatan. Pasar bunga itu untuk menggantikan Pasar Bunga Barito yang digusur Januari lalu.(ECA)KOMPAS, MINGGU, 6 JULI 2008.

Jika saja semua pedagang tradisional di seluruh Indonesia bersatu dan bergabung dalam FOPPI dan dimanage dengan benar, transparansi dan berkeadilan, Indonesia tidak butuh investor asing untuk masuk ke Indonesia mengharapkan income dari pajak dan merebut pangsa pasar para pedagang kecil yang menimbulkan kerawanan dan kecemburuan sosial dan membuka peluang pintu pengangguran lebih besar dengan berdirinya ritel-ritel modern milik asing.

Ternyata jika para pedagang tradisional jika dimanage dengan baik akan menjadi aset nasional yang mampu memberi solusi bagi pembukaan lapangan kerja yang besar dan benteng yang kokoh dari serbuan produk-produk dan ritel-ritel asing di bumi Indonesia yang banyak menyengsarakan pedagang kecil.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Juli 2008
    S S R K J S M
    « Jun   Feb »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Kategori

  • Arsip

  • Tulisan Teratas

  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terbaru

    muktihadid di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ajeng di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ketchupz Bowo di Kenapa Hari Ahad dirubah Menja…
    Justinus Henry di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ahmad samarin Hasibu… di Misteri Lembing si Kutu H…
  • Blog Stats

  • Klik tertinggi

  • Meta

  • ALWAQTU KASYOIF

  • Pengunjung

    Locations of visitors to this page
  • %d blogger menyukai ini: