jump to navigation

Pancasila Return Mei 30, 2011

Posted by muktihadid in Artikel, Pancasila.
Tags:
trackback

Tidak ada bangsa di dunia ini yang begitu banyak mendapat keutamaan dan keberuntungan dari Maha Pencipta selain Indonesia. Kesuburuan serta keindahan tanah airnya mengundang banyak bangsa untuk datang ingin mengkoloninya. Sejarah purba hingga modernnya selalu diwarnai dengan perebutan kekuasaan pihak asing untuk menjajah segala isinya baik apa yang terkandung di perut buminya hingga rakyat yang mendiami diatasnya. Dengan segala cara para penjajah berusaha mengeksploitasi dan memecah belah kekuatan bangsanya. Namun beruntunglah Ilahi menurunkan ajaran Ilahi yang luhur dan universal kepada bangsa Indonesia untuk membentengi keutuhan dan keberadaan tanah air dan rakyatnya dari segala rongrongan yang datang setiap saat dan bertubi-tubi dari pihak-pihak yang jahat baik dari sebagian dalam negeri maupun luar negeri.

Ajaran Ilahi tersebut adalah nilai-nilai dasar negara Indonesia yang tercantum pada paragraf ke-4 dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh pendiri bangsa Indonesia, Ir. Soekarno menamai nila-nilai dasar negara ini Pancasila yang merupakan falsafah, dasar negara dan pandangan hidup, jiwa dan kepribadian, perjanjian luhur, sumber dari segala sumber tertib hukum serta cita-cita dan tujuan yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia.

Nilai Dasar Pertama
Ketuhanan Yang Maha Esa: Memahami substansi nilai-nilai dasar negara adalah menjadi hak dan kewajiban setiap warga negara. Tatkala memahami Ketuhanan sebagai pandangan hidup ini maknanya: mewujudkan masyarakat yang berketuhanan, yakni masyarakat yang anggotanya dijiwai oleh semangat mencapai ridlo Tuhan / Mardlatillah, melalui perbuatan-perbuatan baik bagi sesama manusia dan kepada seluruh makhluk.

Karenanya, membangun Indonesia berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa adalah membangun masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa maupun semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap perbuatan baik yang dilakukannya. Dari sudut pandang etis keagamaan, negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Dari dasar Ketuhanan Yang Maha Esa ini pula menyatakan bahwa suatu keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat yang beriman kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama dan keyakinan mereka.

Nilai Dasar Kedua
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Sejarah adalah wujud pengalaman manusia untuk berperadaban dan berkebudayaan, karenanya, peradaban, politik, dan kebudayaan adalah bagian dari pada kehidupan manusia.

Kemanusiaan, sangat erat hubungannya dengan ketuhanan. Ajaran Illahi menjadi tidak dapat diimplementasikan jika tidak wujud dalam sikap kemanusiaan yang hakiki. Struktur pemerintahan tidak sepenting semangat perwujudan kemanusiaan yang adil dan beradab yang jauh dari pada pendendam dan egoistik (ananiyah).

Demokrasi yang paling menyeluruh sekalipun akan membawa sengsara, jika rakyat tidak memiliki sikap kemanusiaan yang adil dan beradab (jujur), apapun sistem pemerintahan yang ditempuh, tanpa semangat kemanusiaan yang adil dan beradab sengsara jua ujungnya.

Kemanusiaan yang adil dan beradab memerlukan kesetiaan pada diri ketika menjalani kehidupan. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah sebuah semangat dan kegigihan mengajak masyarakat agar kembali ke pangkal jalan dan membangun kembali revolusi bathin masing-masing, mendisiplinkan diri dengan baik, untuk menemukan kendali dan penguasaan diri.

Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah suatu kemampuan untuk menyeimbangkan antara kemakmuran lahiriyah dengan kehidupan ruhaniyah.

Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah semangat mempersiapkan generasi penerus yang mampu melihat lebih dari kepentingan diri sendiri serta memiliki perspektif yang jelas untuk kemajuan masyarakatnya.

Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pembentukan suatu kesadaran tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan. Sebab setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi manusia sempurna, yakni manusia yang berperadaban. Manusia yang berperadaban tentunya lebih mudah menerima kebenaran dengan tulus, dan lebih mungkin untuk mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, yang mengenal hukum. Hidup dengan hukum dan peraturan adalah ciri masyarakat berperadaban dan berkebudayaan.

Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah semangat membangun pandangan tentang kehidupan masyarakat dan alam semesta untuk mencapai kebahagiaan dengan usaha gigih.

Kemanusiaan yang adil dan beradab menimbulkan semangat universal yang mewujudkan sikap bahwa semua bangsa dapat dan harus hidup dalam harmoni penuh toleransi dan damai.

Kemanusiaan yang adil dan beradab akan menghantar kehidupan menjadi bermakna, karena dicapai dengan berbakti tanpa mementingkan diri sendiri demi kebaikan bersama.
Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah suatu sikap revitalisasi diri, untuk memupuk dinamisme kreatif kehidupan, yang menghantarkan seseorang menjadi selalu dinamis, selalu sensitif dan peka pada gerak perubahan dan pembaharuan.

Revitalisasi diri sebagai buah kemanusiaan yang adil dan beradab, tidak terbatas bagi pemeluk agama tertentu siapapun dengan agama apapun dapat melakukannya. Semakin teguh seseorang menempuh kemanusiaan yang adil dan beradab, semakin rendah hati, dan semakin teguh keyakinannya semakin murah hati pula. Dalam hal ini, misi tulen agama adalah untuk memupuk pembentukan sifat dan menggalakkan usaha menguasai diri, yakni toleran dan damai.

Nilai Dasar Ketiga
Persatuan Indonesia: Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian yang telah bersatu. Persatuan Indonesia adalah suatu landasan hidup bangsa atau sistem, yang selalu mementingkan silaturahim, kesetiakawanan, kesetiaan, dan keberanian.
Kehadiran Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Indonesia wujud dan hidup untuk mewujudkan kasih sayang sesama bangsa maupun antarbangsa.

Persatuan Indonesia, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan sempit. Namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih objektif dengan dunia luar. Suatu upaya untuk mengimbangi kepentingan diri dengan kepentingan bangsa lain, atau dalam tataran yang lebih mendalam antara individu bangsa dan alam sejagad, yang merupakan suatu ciri yang diinginkan sebagai warga dunia.

Dalam jangka panjang, prinsip persatuan Indonesia harus menjadi asas ruhaniah suatu peraturan-peraturan dan struktur membangun satu orde antarbangsa yang adil.

Persatuan Indonesia harus mampu menanamkan pemikiran terbuka dan pandangan jauh bagi bangsa Indonesia. Sebab hanya mereka yang berpandangan jauh dan berpikiran terbuka yang dapat mendukung aspirasi ke arah internasionalisme maupun globalisme.
Persatuan Indonesia seperti ini, akan menghantar rakyat Indonesia memiliki kebanggaan yang tulus tentang identitas mereka sebagai warga negara maupun warga dunia.

Pandangan dan sikap seperti ini tidak akan melenyapkan ciri-ciri unggul suatu bangsa. Malahan akan dapat memantapkan ciri-ciri unik sebuah masyarakat bangsa, yakni masyarakat bangsa yang sadar terhadap tanggung jawab global, bersatu dalam mewujudkan persatuan universal, masing-masing menyumbangkan keistimewaannya.

Persatuan Indonesia seperti ini akan mampu menyingkirkan permusuhan internal bangsa. Sebab pencapaiannya tidak melalui kekuatan militer, melainkan melalui tuntutan ilmu, dan peradaban yang membudaya dalam kehidupan masyarakat. Persatuan Indonesia yang berpegang pada prinsip bahwa kemajuan kebudayaan dapat menyamai nilai-nilai universal, sehingga dapat menjadi kekuatan yang dapat mengangkat harkat martabat rakyat untuk menjadi warga negara dan seterusnya warga dunia yang baik.

Persatuan Indonesia Sebagai Fitrah
Secara fitrah pembawaan manusia bergerak mewujudkan dan membangun suatu masyarakat, bangsa dan negara, oleh itu manusia selalu ketergantungan (interdependen) satu dengan lainnya. “Sesungguhnya fitrah manusia tak dapat menghindar dari hidup dalam persatuan,”

Wadah persatuan yang dapat menghimpun segala aktivitasnya adalah negara. Karena negara merupakan organisasi suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat, karena memiliki lembaga politik, pemerintahan yang efektif, kesatuan politik, kedaulatan, dan tujuan nasional.

Pemilik wadah persatuan yang berwujud negara itu adalah warga negara, yaitu suatu bangsa yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai warga dari negaranya itu. Karunia besar telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita, berupa negara dan kebangsaan, yakni Indonesia, maka kita berkewajiban sekaligus berkepentingan mendhahir wujudkan Persatuan Indonesia itu.
Persatuan Indonesia yang segenap warga negaranya berkedudukan sama di dalam hukum dan pemerintahan, dan berkewajiban sama dalam menjunjung hukum dan pemerintahan negara tanpa kecuali.

Persatuan Indonesia yang selalu diupayakan untuk membela tujuan bersama (yang sama) menemukan sesuatu bagi kehidupan bersama bangsa Indonesia, yakni keadilan dan kemakmuran serta kedamaian.

Karunia besar berupa kebangsaan, yakni bangsa yang multikultural namun menyatu dalam persatuan, harus selalu dijadikan landasan membangun budaya Indonesia.
Dimana budaya itu sendiri bersifat dinamis dan tidak statis, mencakup keseluruhan gaya hidup, agama, teknologi, kesusasteraan, dan hasil kesenian bangsa, karenanya manusia terikat oleh kebudayaannya (suigeneris).

Mengenai semua itu harus disadari bahwa kepelbagaian kebudayaan itu mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman kultur manusia Indonesia.

Membangun budaya dalam bingkai Persatuan Indonesia yang majemuk, dan multikultural itu, harus selalu mengutamakan nilai dan praktik hidup bersama, pengenalan melalui pendidikan sejak dini, sebab hidup bersama dalam lingkungan masyarakat majemuk harus dituntun oleh pembelajaran yang terencana.

Persatuan Indonesia harus dapat mengembangkan masyarakat yang rukun, tidak menciptakan ruang bagi terjadinya pengotakan sosial berdasar perbedaan agama, ras, dan lain-lainnya. Dalam kontek kehidupan bersama di dalam masyarakat majemuk, hubungan antar agama tidak boleh tertutup.

Dalam kehidupan yang majemuk, kita selalu berhadapan dengan sikap manusia. Dalam hal ini yang paling diperlukan adalah terwujudnya sikap etis dalam pergaulan dengan sesama umat manusia dengan berbagai perbedaannya. Sikap etis ini juga perlu dibiasakan melalui pembelajaran dan pendidikan tanpa henti.

Agama akan menjadi kaya makna, dan berpengaruh signifikan dalam kehidupan umat manusia, jika pemeluknya selalu cenderung kepada aspek kemanusiaan dan tidak hanya aspek teologis. Dalam berbagai problem sosial, peran agama dapat menyumbangkan pemecahan masalah menuju perubahan dan perbaikannya, bila pemeluknya cenderung kepada aspek kemanusiaan.

Beragama semestinya berfungsi untuk mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial, dalam masyarakat yang memegang fungsi ini, maka fungsi agama tersebut dapat secara nyata ditegakkan.

Agama memungkinkan manusia melakukan hal-hal besar yang mampu dilakukannya, dan ia menyebabkan orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain, ia memberikan kepadanya kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan. Namun bila seseorang kehilangan pemaknaan yang hakiki dan sikap toleransi, agama juga dapat mendatangkan akibat-akibat lain, berupa timbulnya berbagai konflik dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, juga dapat membendung berbagai kemajuan yang berdasar pengalaman maupun ilmu pengetahuan.

Untuk mewujudkan cita-cita persatuan yang ideal, dan memperkecil hambatan-hambatannya, maka diperlukan dialog sehat antar sesama warga bangsa yang majemuk ini. Manusia yang menyendiri sajalah yang akan kehilangan kesempatan untuk berdialog, sekaligus kehilangan kesempatan untuk bermasyarakat. Dan ketika manusia membentuk masyarakat, maka dialog itu akan terjadi dengan sendirinya.

Hubungan antar umat beragama pada era ini, ditandai dengan apa yang disebut dialog. Dialog berarti percakapan tentang hal-hal esensial dan eksistensial. Indonesia yang masyarakatnya beraneka ragam dan dengan latar belakang yang berbeda-beda, sangat disadari akan pentingnya arti dan fungsi dialog itu.

Kita pahami dari berbagai dokumentasi dialog-dialog antaragama telah terselenggara, sejak masa-masa lalu dalam waktu dan proses yang panjang, dengan harapan dapat meraih hasil dialog yang signifikan. Walau dalam kenyataan masih belum dapat diraih seperti yang diidam-idamkan itu.

Khususnya di Indonesia, konflik sosial yang diatasnamakan agama masih sering kali terjadi. Juga masih terdapat kecenderungan pemeluk agama yang belum bisa menerima keberadaan pemeluk lainnya. Itulah yang mendorong bahwa dialog masih memerlukan daya upaya yang serius agar cita-cita persatuan dan kebersamaan dalam kebhinekaan dapat terwujud.

Daya upaya dialog keagamaan/antaragama, di dalam masyarakat Indonesia semestinya terwujud pola kegiatan yang menyeluruh, maknanya dialog tersebut bukan hanya dilaksanakan oleh elit-elit tertentu, yang kesannya berlangsung elitis. Namun, harus dibiasakan pelaku maupun partisipan dialog justru dari lapisan masyarakat kebanyakan/umum. Sehingga apa yang dihasilkan dari dialog kata-kata, dapat diwujudkan dalam praktik perbuatan oleh lapisan paling bawah masyarakat secara menyeluruh.

Nilai Dasar Keempat
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Suatu landasan yang harus mampu menghantar kepada prinsip-prinsip republikanisme, populisme, rasionalisme, demokratisme, dan reformisme yang diperteguh oleh semangat keterbukaan, dan usaha ke arah kerakyatan universal.

Prinsip-prinsip kerakyatan seperti ini, harus menjadi cita-cita utama untuk membangkitkan bangsa Indonesia meyadari potensi mereka dalam dunia modern, yakni kerakyatan yang mampu mengendalikan diri, tabah menguasai diri, walau berada dalam kancah pergolakan hebat untuk menciptakan perubahan dan pembaruan. Yakni kerakyatan yang selalu memberi nafas baru kepada bangsa dan negara dalam menciptakan suatu kehidupan yang penuh persaingan sehat.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan adalah kerakyatan yang dipimpin oleh pendidikan yang mumpuni. Sebab pendidikan merupakan prasyarat untuk menyatukan rohaniah.

Pendidikan adalah tonggak utama makna daripada hikmah kebijaksanaan. Hikmah kebijaksanaan atau pendidikan akan mewarnai kerakyatan yang penuh harmoni, toleransi dan damai, jauh daripada sikap radikalisme apalagi terorisme.

Hikmah kebijaksanaan atau pendidikan, mampu menciptakan interaksi dan rangsangan interdependensi antarmanusia dalam lingkungan bangsa yang multikultural dan majemuk. Sebab manusia berpendidikan akan selalu menghormati suatu proses dalam segala hal.
Hikmah kebijaksanaan atau pendidikan menjadi pedoman kerakyatan, sebab ia merupakan cara yang paling lurus dan pasti, menuju ke arah harmoni, toleransi dan damai. Pendidikanlah yang memungkinkan kita selaku rakyat suatu bangsa dapat bersikap toleran atas wujud kemajemukan bangsa.

Hikmah kebijaksanaan menampilkan rakyat berpikir pada tahap yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan membebaskan diri daripada belenggu pemikiran berazaskan kelompok dan aliran tertentu yang sempit.

Karenanya membangun hikmah kebijaksanaan adalah membangun pendidikan, dan itulah hakekat membangun kerakyatan yang berperadaban yang kaya akan kebudayaan, yakni kerakyatan yang terhindar dari saling curiga dan permusuhan.

Nilai Dasar Kelima
Mewujudkan Suatu Keadilan Sosial: Mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah merupakan tujuan dari cita-cita bernegara dan berbangsa, menyangkut keilmuan, keikhlasan pemikiran, kelapangan hati, peradaban, kesejahteraan keluarga, keadilan masyarakat dan kedamaian.

Itu semua bermakna mewujudkan keadaan masyarakat yang bersatu secara organik yang setiap anggotanya mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang serta belajar hidup pada kemampuan aslinya. Dengan mewujudkan segala usaha yang berarti yang diarahkan kepada potensi rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat, sehingga memiliki pendirian dan moral yang tegas.

Mewujudkan suatu keadilan sosial, juga berarti mewujudkan azas masyarakat yang stabil yang ditumbuhkan oleh warga masyarakat itu sendiri, mengarah pada terciptanya suatu sistem teratur yang menyeluruh melalui penyempurnaan pribadi anggota masyarakat, sehingga wujud suatu cara yang benar bagi setiap individu untuk membawa diri dan suatu cara yang benar untuk memperlakukan orang lain.

Karenanya, mewujudkan suatu keadilan harus menjadi suatu gerakan kemanusiaan yang serius, dan sungguh-sungguh dilakukan oleh rakyat, dengan metoda dan pengorganisasian yang jitu sehingga tujuan mulia ini tidak berbalik menjadi paradoks dan kontradiktif yakni menjadi gerakan pemerkosaan terhadap nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.( http://www.tokohindonesia.com/publikasi/article/322-opini/3371-al-zaytun-dan-pancasila)

Kini, sudah pada saatnya nilai-nilai dasar negara bangsa Indonesia ini harus diaplikasikan dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan hanya dijadikan jargon politik oleh para elit politisi saja namun harus menyatu dalam derap denyut nadi kehidupan bangsa Indonesia, agar keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi wujud adanya.

Semoga kita diberikan tolong dan kekuatan oleh-Nya agar dapat mengaplikasikan nilai-nilai ajaran Ilahi itu sehingga bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang kuat dan maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang terlebih dulu maju dan sejahtera. Amin

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Mei 2011
    S S R K J S M
    « Feb   Jun »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Kategori

  • Arsip

  • Tulisan Teratas

  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terbaru

    muktihadid di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ajeng di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ketchupz Bowo di Kenapa Hari Ahad dirubah Menja…
    Justinus Henry di Misteri Lembing si Kutu H…
    Ahmad samarin Hasibu… di Misteri Lembing si Kutu H…
  • Blog Stats

  • Klik tertinggi

  • Meta

  • ALWAQTU KASYOIF

  • Pengunjung

    Locations of visitors to this page
  • %d blogger menyukai ini: